..Alhamdulillah, setelah sekian
lama tidak menulis, ternyata saya masih ingat password untuk masuk ke ruangan
ini..jelas bukan tanpa alasan saya tidak lagi rajin menulis..beban pekerjaan di
kantor dan keceriaan bermain dengan anak di rumah jelas menjadi tanggungjawab
utama yang harus saya selesaikan.. (haha..uraian menarik untuk menyingkat 1
perangai negatif saya : PEMALAS...)
Kenapa kembali membuka halaman
ini ??
Singkat cerita, pikiran saya
terusik ketika teman maen ke rumah. Dibuka dengan obrolan khas jagong bayi,
perlahan pembicaraan bergeser tentang kegelisahan beliau terhadap kondisi
tempatnya bekerja..
Catatan menarik dari obrolan
semalam adalah :
Organisasi tempatnya bekerja
tidak lagi berjalan pada rel yang seharusnya. Konsep dan segala macam
keunggulan produk yang sudah terbangun beberapa waktu yang lalu menghilang
secara perlahan, digantikan oleh riasan gedung berjejal sumberdaya manusia
bergelar sarjana dari universitas ternama..secara vulgar disampaikan “ kita
sudah out of concept”..
Secangkir teh diteguk, dan
dilanjutkan..
Organisasi tersebut lahir dari
sebuah ide dan keprihatinan atas kondisi yang ada saat itu, dengan tema besar “Penanganan
Bencana”. Orang-orang terbaik dibidangnya kemudian bergandeng tangan, bekerja
membangun sebuah sistem yang pada akhirnya diakui sebagai pilot project yang berhasil.
Indikatornya keberhasilannya jelas : target terpenuhi, output cepat, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Nilai positif
lain adalah setiap orang yang membutuhkan dapat mengaksesnya dengan cepat, tak
berbelit, dan tanpa ragu. Hal tersebut semakin kuat ketika mesin utama dari
organisasi tersebut bekerja berdasarkan aturan yang sangat jelas, bukan hanya
bagaimana bergerak, namun juga sangat paham kemana organisasi tersebut akan
dibawa dan seberapa cepat harus ada disana, sehingga secara otomatis
komponen-komponen bekerja berdasarkan tuntutan tersebut. Dalam perjalananannya,
ada kalanya guncangan muncul, mungkin itu karena mesin tidak berjalan dengan
baik. Tapi diluar itu, organisasi bergerak pada rel yang tepat, dan sangat
nyaman untuk terus berjalan.
Sampai tiba waktunya terjadi
perubahan pada struktur dan garis kerja dari organisasi tersebut. Tidak lagi
independen, namun bergantung pada organisasi lain yang lebih besar. Garis
koordinasi yang terbangun sebenarnya bukan hal baru, namun kolega yang ada
bukan lagi mereka yang berjuang bersama membangun sistem, melainkan
pribadi-pribadi hebat, namun tidak tumbuh dalam sebuah isu dimana organisasi
tersebut berada. Jelas tidak akan menjadi masalah yang berarti ketika terdapat
proses transisi dengan keterlibatan “orang lama” disana, namun tentu akan
meresahkan ketika para sesepuh tergusur,
kemudian tergantikan langsung tanpa sempat mewariskan apa yang dimiliki, bukan
hanya karena waktu yang tidak ada, namun karena si bocah merasa sudah kaya, atau setidaknya berpikir bahwa dia sudah
dewasa tanpa harus berjalan didampingi orang lain.. sampai pada sebuah
kesimpulan : organisasi sekarang menjadi semakin BIROKRATIS..
Menarik nafas dalam, sementara
penulis menarik senyum dengan statement tersebut. Dalam hati berkata :
nah..mungkin ini wajahku sekarang...
Organisasi tersebut saat ini dikomandoi
oleh seorang yang sangat pintar, dengan konsep-konsep baru. Namun pada saat
yang sama komando tidak dapat berjalan, karena hanya komandan saja yang dapat
memahami komando tersebut. Menjadi lebih perih ketika komandan melempar komando
yang tidak dipahami oleh anak buah, sementara dia sendiri tidak mau memberikan
contoh bagaimana komando tersebut dijalankan.. (haha..pilihan kalimat saya
mengingatkan pada pekerjaan bersama pak tentara)..
Pun demikian dengan jalur yang
dibangun juga semakin berliku. Kewenangan untuk pengambilan keputusan tidak
lagi berada dalam tanggungjawab atasan langsung, namun harus naik dua atau tiga
tingkat diatasnya. Ketika semua berjalan cepat penuh komitmen, ít’s OK, karena itu yang diamanatkan
oleh peraturan. Namun yang terjadi adalah sebuah pekerjaan yang harusnya
berjalan cepat (karena terkait pelayanan 24 jam, 7 hari seminggu), pada
akhirnya diposisikan sama dengan berbagai macam dokumen administrasi
pemerintahan yang berputar hanya pada jam kerja. Menjadi semakin
mengkhawatirkan bagi teman tersebut adalah ketika mereka saat ini justru lebih
sebagai penghimpun data, untuk selanjutnya diolah oleh pribadi lain, yang
sayangnya justru sudah mempunyai tugas lain-lain yang lebih banyak..mesin
berjalan semakin lambat..
Orang – orang baru datang, lebih
pintar mungkin, kuat pada bidang kerjanya, namun sayangnya lemah pada isu
dimana bidang tersebut bekerja. Sebagian masuk dari seleksi, namun sebagian
besar atas dasar rekomendasi. Tidak ada lagi bentuk-bentuk pengenalan atas
tupoksi utama dari organisasi tersebut. Komitmen pada organisasi tereduksi
menjadi kepatuhan pada individu. Kondisi tersebut diperparah bahwa yang menjadi
target utama dalam pengenalan adalah bagaimana cara bekerja, bukan untuk apa
hasil dari pekerjaan tersebut. Konsekuensinya, sebuah laporan kini tak lagi
berproses secara runtut, namun tak lebih dari sekedar pekerjaan rutin yang
dapat dilaksanakan dengan mata terpejam dengan meluangkan sedikit waktu untuk
berfikir, persis secepat printer mencetak laporannya. Tidak ada lagi beban
tanggungjawab bagaimana laporan tersebut akan dimanfaatkan, dan seberapa cepat
laporan tersebut dapat didayagunakan. Kondisi tersebut diperparah dengan semakin
renggangnya relasi dengan kolega di daerah lain. Bukan hanya karena perubahan
sistem yang terjadi, namun juga berkurangnya etika, rasa saling menghormati dan
tanggungjawab dari anak-anak baru tersebut..
Ah..mungkin pikiran-pikiran
tersebut tumbuh karena kekhawatiran akan tergusur oleh orang baru..
Bukan, ternyata bukan itu
kesimpulan dari diskusi ini.. yang diperbandingkan adalah proses dan hasil
akhir..penilaian dari pihak lain memperjelas adanya perbedaan tersebut. Rekan yang
dulu memuji sekarang meragukan. Murid yang dulu mendengarkan sekarang justru
menjadi tempat menuntut ilmu.
Rasa rendah diri semakin dalam
terbentuk ketika mereka tidak mampu lagi menjawab ekspektasi publik atas
kinerja mereka. Setiap kritik tidak lagi dapat mereka respon karena memang
begitulah adanya..
Sampai pada akhirnya, catatan
kritis pun tersimpulkan...
Sebuah organisasi lahir dan
tumbuh berdasarkan tujuan tertentu. Disanalah idealisme itu berada, karena
terbentuk dari latar belakang masalah yang disimpulkan bersama-sama secara
sadar dan bertanggungjawab. Visi misi terjabarkan dan terealisasikan
berdasarkan proses yang berulang, berubah, dan terus berjalan, bukan berulang,
berulang, dan berulang. Hal tersebut persis sama dengan kesimpulan penelitian terakhir
penulis pada sebuah organisasi di tahun 2010. Terjebak pada “tradisi program”, hanya
akan membuat sebuah organisasi berjalan ditempat atau bahkan mundur. Dengan
pemahaman akan tujuan yang hendak dicapai, setiap organisasi harus berani untuk
berbenah. Kecepatan perubahan jelas tidak akan sama pada sebuah organisasi,
namun setidaknya kita tidak akan tertinggal terlalu jauh dengan organisasi
lain.
Adanya perubahan meriwayatkan
bagaimana sisi positif dan negatif dari aktifitas yang selama ini berjalan.
Seiring adanya perubahan individu yang berada dalam organisasi tersebut,
pergantian dan penambahan program mungkin akan mengesankan adanya ide-ide baru
yang ada. Namun yang perlu dicermati adalah darimana datangnya ide-ide
tersebut.
Setiap individu yang bergabung
tidak dapat serta merta membawa konsep-konsep yang dibawanya untuk
diaplikasikan pada tempat baru dimana dia bernaung. Ada kalanya sebuah konsep
efektif di satu bidang, namun justru menjadi hambatan pada bidang lain. Perlu
waktu bagi setiap komponen baru untuk memahami setiap wewenang dan tugas yang
diembannya. Ada proses pembelajaran dan pengenalan yang harus dilalui, tidak
hanya dari orang yang lebih pandai atau lebih kuat kedudukannya, melainkan juga
pada orang-orang yang sudah berpengalaman di dalamnya, kendatipun dia hanya
seorang OB misalnya..hehe..bayangkan ketika kita ingin bekerja cepat, namun
kita tidak tahu dimana menyimpan kertas, tinta, menemukan saklar listrik atau
nomor telepon rumah makan disaat kita kerja lembur sendirian..dan..jangan cuma jarkoni,iso ujar tur ra iso nglakoni..jangan
melempar konsep yang kita sendiri tidak mau mengawal dan menjalankannya..jangan
terlalu senang memerintah sebelum kita sendiri memberikan contoh. Seorang
individu mungkin akan menjadi besar dari proses mendominasi, tapi sebuah
organisasi tumbuh dari kerjasama yang solid dan saling melengkapi..
Harus diakui, saat ini banyak
sekali pribadi hebat bergelar sarjana atau master dengan ide-ide kritis yang
mencerminkan koreksi atas proses yang ada, tapi tetap saja kita tidak dapat
berjalan sendirian. Terkadang waktu dan energi kita tidak cukup untuk
menjalankan sebuah konsep, sehingga dibutuhkan kerjasama dengan orang lain.
Pada tahap ini, rasa saling menghargai dan menghormati perlu diperkuat, seiring
dengan langkah yang harus beretika. Beban pekerjaan yang terlalu berat
seringkali membuat kita lupa atas nilai-nilai tersebut. Atau justru kadang
ketakutan membaca pikiran orang lain atas sikap kita : “ ah, dia
penjilat..penghasut..cari muka...”..sudahlah..ketika diniatkan baik, terapkan
saja nilai-nilai tersebut, tentu dengan catatan berlaku kepada semua orang,
dalam jabatan apapun, dalam profesi apapun. Simpati dan empati tumbuh disitu,
dan akan membawa kita pada sebuah kondisi yang menyenangkan, saat kita pindah
dari satu tempat kerja ke tempat yang lain. Sederhana, tapi kadang sangat
efektif dalam mempercepat langkah kita mencapai target.
Kalaupun ada yang paling berat,
mungkin itu adalah proses membangun komitmen untuk mengawal tujuan keberadaan organisasi.
Bumbu kepentingan individu atau kelompok menjadi aroma paling menyengat, bisa
diabaikan, tapi tidak bisa dinafikkan keberadaanya. Teman tersebut berkata “pimpinan
menjawab : beginilah organisasi ini berjalan, turut atau turun, itu pilihan
anda” ... haha..siapa yang tidak takut dengan statement tersebut, jelas ini bukan masalah adu jotos yang katanya
menunjukkan kejantanan seseorang, tapi urusan dapur ngebul yang menjadi
pertimbangan untuk meresponnya. Namun demikian, keberanian untuk menyampaikan
ide menjadi kunci untuk menetralisirnya. Dalam konteks ini, kita tidak
berbicara masalah apakah ide-ide tersebut akan dilakukan atau tidak, kita kena
marah atau tidak, tapi lebih pada terbangunnya proses komunikasi. Selama
diskusi masih berputar pada tataran substansi, yakini saja bahwa anda aman.
Mungkin kita tidak akan pernah menjadi juara, tapi setidaknya kita dapat
menyelesaikan permainan dengan aman dan lancar..bukan begitu ??
Diskusi terus berjalan, dan
penulis tidak dapat berhenti merespon. Bukan karena kesepahaman atau
ketidaksepahaman, melainkan karena penulis membayangkan berada dalam situasi
yang hampir sama. Masih berada dalam proses transisi, terus menyesuaikan diri,
dan membandingkan pengalaman. Setiap catatan dari teman tersebut merangsang
kembali kepercayaan diri yang mulai terdegradasi, untuk melangkah dengan derap
yang sama seperti saat penulis masih bekerja di masyarakat dan berguru dengan profesor-doktor
yang ada di kampus.
----------------------------
Terlalu banyak lubang dan
lompatan dalam tulisan, tapi menyegarkan untuk mengembalikan semangat menulis..
Jika waktu masih tersisa, tenaga
masih ada, dan ruang pikiran masih terbuka, berharap untuk melanjutkannya
kembali..
Tanpa referensi, sekedar cerita
hati.
22 Agustus 2014
Ditemani secangkir kopi...05.00
WIB