berfikir positif sampai nafas terakhir (250908)

Thursday, August 21, 2014

MELACAK MEMORI, MENAPAK MIMPI...



..Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak menulis, ternyata saya masih ingat password untuk masuk ke ruangan ini..jelas bukan tanpa alasan saya tidak lagi rajin menulis..beban pekerjaan di kantor dan keceriaan bermain dengan anak di rumah jelas menjadi tanggungjawab utama yang harus saya selesaikan.. (haha..uraian menarik untuk menyingkat 1 perangai negatif saya : PEMALAS...)

Kenapa kembali membuka halaman ini ??

Singkat cerita, pikiran saya terusik ketika teman maen ke rumah. Dibuka dengan obrolan khas jagong bayi, perlahan pembicaraan bergeser tentang kegelisahan beliau terhadap kondisi tempatnya bekerja..

Catatan menarik dari obrolan semalam adalah :

Organisasi tempatnya bekerja tidak lagi berjalan pada rel yang seharusnya. Konsep dan segala macam keunggulan produk yang sudah terbangun beberapa waktu yang lalu menghilang secara perlahan, digantikan oleh riasan gedung berjejal sumberdaya manusia bergelar sarjana dari universitas ternama..secara vulgar disampaikan “ kita sudah out of concept”..

Secangkir teh diteguk, dan dilanjutkan..

Organisasi tersebut lahir dari sebuah ide dan keprihatinan atas kondisi yang ada saat itu, dengan tema besar “Penanganan Bencana”. Orang-orang terbaik dibidangnya kemudian bergandeng tangan, bekerja membangun sebuah sistem yang pada akhirnya diakui sebagai pilot project  yang berhasil. Indikatornya keberhasilannya jelas : target terpenuhi, output cepat, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Nilai positif lain adalah setiap orang yang membutuhkan dapat mengaksesnya dengan cepat, tak berbelit, dan tanpa ragu. Hal tersebut semakin kuat ketika mesin utama dari organisasi tersebut bekerja berdasarkan aturan yang sangat jelas, bukan hanya bagaimana bergerak, namun juga sangat paham kemana organisasi tersebut akan dibawa dan seberapa cepat harus ada disana, sehingga secara otomatis komponen-komponen bekerja berdasarkan tuntutan tersebut. Dalam perjalananannya, ada kalanya guncangan muncul, mungkin itu karena mesin tidak berjalan dengan baik. Tapi diluar itu, organisasi bergerak pada rel yang tepat, dan sangat nyaman untuk terus berjalan.
Sampai tiba waktunya terjadi perubahan pada struktur dan garis kerja dari organisasi tersebut. Tidak lagi independen, namun bergantung pada organisasi lain yang lebih besar. Garis koordinasi yang terbangun sebenarnya bukan hal baru, namun kolega yang ada bukan lagi mereka yang berjuang bersama membangun sistem, melainkan pribadi-pribadi hebat, namun tidak tumbuh dalam sebuah isu dimana organisasi tersebut berada. Jelas tidak akan menjadi masalah yang berarti ketika terdapat proses transisi dengan keterlibatan “orang lama” disana, namun tentu akan meresahkan ketika para sesepuh tergusur, kemudian tergantikan langsung tanpa sempat mewariskan apa yang dimiliki, bukan hanya karena waktu yang tidak ada, namun karena si bocah merasa sudah kaya, atau setidaknya berpikir bahwa dia sudah dewasa tanpa harus berjalan didampingi orang lain.. sampai pada sebuah kesimpulan : organisasi sekarang menjadi semakin BIROKRATIS..

Menarik nafas dalam, sementara penulis menarik senyum dengan statement tersebut. Dalam hati berkata : nah..mungkin ini wajahku sekarang...

Organisasi tersebut saat ini dikomandoi oleh seorang yang sangat pintar, dengan konsep-konsep baru. Namun pada saat yang sama komando tidak dapat berjalan, karena hanya komandan saja yang dapat memahami komando tersebut. Menjadi lebih perih ketika komandan melempar komando yang tidak dipahami oleh anak buah, sementara dia sendiri tidak mau memberikan contoh bagaimana komando tersebut dijalankan.. (haha..pilihan kalimat saya mengingatkan pada pekerjaan bersama pak tentara)..
Pun demikian dengan jalur yang dibangun juga semakin berliku. Kewenangan untuk pengambilan keputusan tidak lagi berada dalam tanggungjawab atasan langsung, namun harus naik dua atau tiga tingkat diatasnya. Ketika semua berjalan cepat penuh komitmen, ít’s OK, karena itu yang diamanatkan oleh peraturan. Namun yang terjadi adalah sebuah pekerjaan yang harusnya berjalan cepat (karena terkait pelayanan 24 jam, 7 hari seminggu), pada akhirnya diposisikan sama dengan berbagai macam dokumen administrasi pemerintahan yang berputar hanya pada jam kerja. Menjadi semakin mengkhawatirkan bagi teman tersebut adalah ketika mereka saat ini justru lebih sebagai penghimpun data, untuk selanjutnya diolah oleh pribadi lain, yang sayangnya justru sudah mempunyai tugas lain-lain yang lebih banyak..mesin berjalan semakin lambat..
Orang – orang baru datang, lebih pintar mungkin, kuat pada bidang kerjanya, namun sayangnya lemah pada isu dimana bidang tersebut bekerja. Sebagian masuk dari seleksi, namun sebagian besar atas dasar rekomendasi. Tidak ada lagi bentuk-bentuk pengenalan atas tupoksi utama dari organisasi tersebut. Komitmen pada organisasi tereduksi menjadi kepatuhan pada individu. Kondisi tersebut diperparah bahwa yang menjadi target utama dalam pengenalan adalah bagaimana cara bekerja, bukan untuk apa hasil dari pekerjaan tersebut. Konsekuensinya, sebuah laporan kini tak lagi berproses secara runtut, namun tak lebih dari sekedar pekerjaan rutin yang dapat dilaksanakan dengan mata terpejam dengan meluangkan sedikit waktu untuk berfikir, persis secepat printer mencetak laporannya. Tidak ada lagi beban tanggungjawab bagaimana laporan tersebut akan dimanfaatkan, dan seberapa cepat laporan tersebut dapat didayagunakan. Kondisi tersebut diperparah dengan semakin renggangnya relasi dengan kolega di daerah lain. Bukan hanya karena perubahan sistem yang terjadi, namun juga berkurangnya etika, rasa saling menghormati dan tanggungjawab dari anak-anak baru tersebut..

Ah..mungkin pikiran-pikiran tersebut tumbuh karena kekhawatiran akan tergusur oleh orang baru..

Bukan, ternyata bukan itu kesimpulan dari diskusi ini.. yang diperbandingkan adalah proses dan hasil akhir..penilaian dari pihak lain memperjelas adanya perbedaan tersebut. Rekan yang dulu memuji sekarang meragukan. Murid yang dulu mendengarkan sekarang justru menjadi tempat menuntut ilmu.
Rasa rendah diri semakin dalam terbentuk ketika mereka tidak mampu lagi menjawab ekspektasi publik atas kinerja mereka. Setiap kritik tidak lagi dapat mereka respon karena memang begitulah adanya..

Sampai pada akhirnya, catatan kritis pun tersimpulkan...

Sebuah organisasi lahir dan tumbuh berdasarkan tujuan tertentu. Disanalah idealisme itu berada, karena terbentuk dari latar belakang masalah yang disimpulkan bersama-sama secara sadar dan bertanggungjawab. Visi misi terjabarkan dan terealisasikan berdasarkan proses yang berulang, berubah, dan terus berjalan, bukan berulang, berulang, dan berulang. Hal tersebut persis sama dengan kesimpulan penelitian terakhir penulis pada sebuah organisasi di tahun 2010. Terjebak pada “tradisi program”, hanya akan membuat sebuah organisasi berjalan ditempat atau bahkan mundur. Dengan pemahaman akan tujuan yang hendak dicapai, setiap organisasi harus berani untuk berbenah. Kecepatan perubahan jelas tidak akan sama pada sebuah organisasi, namun setidaknya kita tidak akan tertinggal terlalu jauh dengan organisasi lain.
Adanya perubahan meriwayatkan bagaimana sisi positif dan negatif dari aktifitas yang selama ini berjalan. Seiring adanya perubahan individu yang berada dalam organisasi tersebut, pergantian dan penambahan program mungkin akan mengesankan adanya ide-ide baru yang ada. Namun yang perlu dicermati adalah darimana datangnya ide-ide tersebut.
Setiap individu yang bergabung tidak dapat serta merta membawa konsep-konsep yang dibawanya untuk diaplikasikan pada tempat baru dimana dia bernaung. Ada kalanya sebuah konsep efektif di satu bidang, namun justru menjadi hambatan pada bidang lain. Perlu waktu bagi setiap komponen baru untuk memahami setiap wewenang dan tugas yang diembannya. Ada proses pembelajaran dan pengenalan yang harus dilalui, tidak hanya dari orang yang lebih pandai atau lebih kuat kedudukannya, melainkan juga pada orang-orang yang sudah berpengalaman di dalamnya, kendatipun dia hanya seorang OB misalnya..hehe..bayangkan ketika kita ingin bekerja cepat, namun kita tidak tahu dimana menyimpan kertas, tinta, menemukan saklar listrik atau nomor telepon rumah makan disaat kita kerja lembur sendirian..dan..jangan cuma jarkoni,iso ujar tur ra iso nglakoni..jangan melempar konsep yang kita sendiri tidak mau mengawal dan menjalankannya..jangan terlalu senang memerintah sebelum kita sendiri memberikan contoh. Seorang individu mungkin akan menjadi besar dari proses mendominasi, tapi sebuah organisasi tumbuh dari kerjasama yang solid dan saling melengkapi..
Harus diakui, saat ini banyak sekali pribadi hebat bergelar sarjana atau master dengan ide-ide kritis yang mencerminkan koreksi atas proses yang ada, tapi tetap saja kita tidak dapat berjalan sendirian. Terkadang waktu dan energi kita tidak cukup untuk menjalankan sebuah konsep, sehingga dibutuhkan kerjasama dengan orang lain. Pada tahap ini, rasa saling menghargai dan menghormati perlu diperkuat, seiring dengan langkah yang harus beretika. Beban pekerjaan yang terlalu berat seringkali membuat kita lupa atas nilai-nilai tersebut. Atau justru kadang ketakutan membaca pikiran orang lain atas sikap kita : “ ah, dia penjilat..penghasut..cari muka...”..sudahlah..ketika diniatkan baik, terapkan saja nilai-nilai tersebut, tentu dengan catatan berlaku kepada semua orang, dalam jabatan apapun, dalam profesi apapun. Simpati dan empati tumbuh disitu, dan akan membawa kita pada sebuah kondisi yang menyenangkan, saat kita pindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain. Sederhana, tapi kadang sangat efektif dalam mempercepat langkah kita mencapai target.
Kalaupun ada yang paling berat, mungkin itu adalah proses membangun komitmen untuk mengawal tujuan keberadaan organisasi. Bumbu kepentingan individu atau kelompok menjadi aroma paling menyengat, bisa diabaikan, tapi tidak bisa dinafikkan keberadaanya. Teman tersebut berkata “pimpinan menjawab : beginilah organisasi ini berjalan, turut atau turun, itu pilihan anda” ... haha..siapa yang tidak takut dengan statement tersebut, jelas ini bukan masalah adu jotos yang katanya menunjukkan kejantanan seseorang, tapi urusan dapur ngebul yang menjadi pertimbangan untuk meresponnya. Namun demikian, keberanian untuk menyampaikan ide menjadi kunci untuk menetralisirnya. Dalam konteks ini, kita tidak berbicara masalah apakah ide-ide tersebut akan dilakukan atau tidak, kita kena marah atau tidak, tapi lebih pada terbangunnya proses komunikasi. Selama diskusi masih berputar pada tataran substansi, yakini saja bahwa anda aman. Mungkin kita tidak akan pernah menjadi juara, tapi setidaknya kita dapat menyelesaikan permainan dengan aman dan lancar..bukan begitu ??

Diskusi terus berjalan, dan penulis tidak dapat berhenti merespon. Bukan karena kesepahaman atau ketidaksepahaman, melainkan karena penulis membayangkan berada dalam situasi yang hampir sama. Masih berada dalam proses transisi, terus menyesuaikan diri, dan membandingkan pengalaman. Setiap catatan dari teman tersebut merangsang kembali kepercayaan diri yang mulai terdegradasi, untuk melangkah dengan derap yang sama seperti saat penulis masih bekerja di masyarakat dan berguru dengan profesor-doktor yang ada di kampus.


----------------------------
Terlalu banyak lubang dan lompatan dalam tulisan, tapi menyegarkan untuk mengembalikan semangat menulis..

Jika waktu masih tersisa, tenaga masih ada, dan ruang pikiran masih terbuka, berharap untuk melanjutkannya kembali..

Tanpa referensi, sekedar cerita hati.
22 Agustus 2014

Ditemani secangkir kopi...05.00 WIB