berfikir positif sampai nafas terakhir (250908)

Thursday, June 16, 2011

SMARTER CITY : Better City, Better Life

Sedikit terlambat menulis ini, namun menarik untuk menyampaikan ruh peringatan Hari Habitat Dunia tahun 2010.

The state of the world atlas sebagaimana dikutip dalam PERCIK edisi ke-4 2010 mencatat, 50 % penduduk dunia tinggal di perkotaan; 3 milyar penduduk dunia tinggal di perkotaan, 1 milyar diantaranya tinggal di kawasan kumuh (di kawasan sub-sahara 70% penduduk perkotaan tinggal di kawasan kumuh); dan tahun 2005, jumlah penduduk perkotaan meningkat 1,4 milyar dibanding tahun 1980. Sedikit berkorelasi dengan catatan tersebut diatas, riset kesehatan dasar pada tahun 2008 menyebut bahwa 24,8% rumah tangga di Indonesia masih tidak menggunakan fasilitas buang air besar, dan 32,5 % tidak memiliki saluran pembuangan air limbah (PERCIK edisi ke-1 tahun 2010).

Angka-angka tersebut disajikan bukan tanpa alasan, namun sekedar memberikan gambaran bahwa permukiman, penyediaan air bersih dan sanitasi dasar menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Kasus-kasus tersebut berlaku umum untuk setiap wilayah di Indonesia, namun menjadi semakin memprihatinkan ketika kita melihat kondisi kota-kota besar di Indonesia. Kampung kumuh, kesulitan air bersih, serta masalah kesehatan lingkungan seolah menjadi mimpi buruk, sekaligus “mahkota” untuk sebuah daerah yang disebut dengan “kota”.

Pada satu sisi, pembangunan yang diselenggarakan di Indonesia diarahkan pada upaya mengatasi kemiskinan, yang berdasarkan data terbaru BPS pada tahun 2010 sebagian besar terdapat di perdesaan. Namun demikian, penataan lingkungan perkotaan tidak boleh diabaikan sebagai konsekuensi dari fakta bahwa arus urbanisasi masih cukup deras mengalir.

Merujuk pada permasalahan diatas, kiranya penting bagi kita untuk memperhatikan isu yang diangkat dalam rangka Hari Habitat Dunia tahun 2010, yaitu mimpi mewujudkan kehidupan yang lebih baik berangkat dari kota. Dengan mengangkat tema better city, better life , upaya mengatasi pusaran permasalahan di kota diyakini mampu memberikan kontribusi nyata dalam upaya perbaikan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Berangkat dari tujuan tersebut, sangatlah penting untuk menekankan akan pentingnya kualitas kota untuk menunjang kehidupan yang lebih baik, yang dapat mendorong potensi dan peluang, mengurangi kesenjangan serta menyediakan hunian yang layak bagi lapisan masyarakat. Guna merealisasikan keinginan tersebut, perlu diwujudkan apa yang disebut dengan smarter city, dengan berpegang pada 5 (lima) langkah strategis yaitu:

1. Memperbaiki kualitas hidup

a. Khususnya penduduk di permukiman kumuh dan perumahan dibawah standar

b. Memperbaiki akses pada rumah yang aman dan sehat, kepemilikan lahan yang aman, pelayanan dasar dan pemenuhan kebutuhan sosial seperti kesehatan dan pendidikan

2. Meningkatkan partisipasi politik

a. Mendekatkan pemerintah dalam jangkauan masyarakat melalui peningkatan keterlibatan masyarakat

b. Menarik orang dan lingkungan mereka ke dalam dialog dan partisipasi dalam pengambilan keputusan sebagai aspek dasar dari demokrasi lokal

3. Meningkatkan keterlibatan budaya

a. Kebijakan pembangunan lokal yang mempertimbangkan dimensi budaya, seperti modal sosial, tradisi, simbol, serta rasa memiliki dan bangga kepada tempat

b. Membantu menyatukan etnik minoritas, melestarikan nilai-nilai lokal, menjaga keragaman bahasa dan agama, menyesuaikan konflik dan melindungi warisan

4. Mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan

a. Melalui proyek-proyek padat karya, termasuk pekerjaan umum dan industri konstruksi

b. Menyediakan jaring pengaman sosial untuk memberikan akses yang lebih baik pada keterlibatan dalam kegiatan ekonomi bagi masyarakat yang termajinalkan

5. Berinvestasi dalam modal manusia

a. Merupakan persyaratan untuk pembangunan sosial-ekonomi dan distribusi yang lebih adil dari keberadaan perkotaan

b. Mendorong perkotaan dan wilayah untuk melaksanakan kebijakan lebih efektif dan memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan lokal

(nurprismawan, 16062011)