berfikir positif sampai nafas terakhir (250908)

Wednesday, August 3, 2011

KEPING BERHARGA DARI DIKLAT PRAJABATAN : KARAKTER DALAM BANGUNAN PENGABDIAN

Today, there is no first world, second world, or the third world...just the fast world..and the slow world.. (Thomas Friedman)

Diklat prajabatan golongan III telah selesai dilaksanakan. Berakhir sudah petualangan 153 orang CPNS dari Kabupaten Magelang, Kota Surakarta, Kabupaten Sragen, Kabupaten Minahasa dan UGM. Ketika rasa kangen dengan keluarga belum terobati, dan bahkan ketika guyuran air hangat belum melunturkan rasa capek di badan, terbersit pertanyaan : apakah pengembaraan 21 hari di Eden bermanfaat ? ketika sebagian besar orang melihat perjalanan tersebut tidak lebih dari sekedar formalitas, tidak adakah yang bisa dimaknai ??


Semakin Didengarkan, Semakin Takut Melangkah

Hari pertama selepas pembukaan, angkatan XXX, tempat dimana penulis bergabung, diajak berdiskusi dalam dinamika kelompok. Salah satu perbincangan saat itu adalah tentang citra dan peran PNS. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, dan setelah saling berargumentasi, muncul beberapa penilaian terhadap PNS : tidak disiplin, pemalas, tukang korupsi, dll. Aneh, tentu tidak mengingat stereotype itulah yang menempel pada diri pegawai pemerintah. Tapi tentu ironis ketika hal tersebut muncul dari proses identifikasi oleh kita, CPNS, yang notabene-nya sudah menjadi bagian dari birokrasi pemerintah itu sendiri. Pertentangan muncul ketika satu kelas bersepakat bahwa itu salah, dan harus dirubah. Tapi, bagaimana idealisme tersebut dapat melawan sebuah sistem yang sudah mengakar kuat, menghancurkan bukan hanya bangunan pemerintahan itu sendiri, namun juga mengusik etika dan kehidupan masyarakat ??

Kaki terus melangkah, mendengar, berdiskusi, berargumen, dan saling silang pendapat. Namun jika ditarik garis penghubung, terbangun kesepakatan bahwa masalah birokrasi pemerintah sudah cukup kronis, baik pada sumberdaya manusia yang ada, ruang kelembagaan yang mewadahi, atau sistem yang hidup dalam mesin pemerintahan. Hal tersebut sepertinya juga diamini oleh penyelenggara diklat, yaitu Pusdiklat Kemendagri Regional Yogyakarta, yang terlihat dari kurikulum dan materi yang disampaikan. Dinamika kelompok, managemen kepegawaian, komunikasi efektif dan pola pikir PNS diajarkan untuk membangun individu pegawai yang baik; SPPRI, managemen perkantoran, pelayanan prima, dan team building dikembangkan untuk menjawab masalah kelembagaan; sementara budaya kerja, etika organisasi, wawasan kebangsaan dan percepatan pemberantasan korupsi diinduksikan untuk merubah sistem yang ada. Efektif ?? jawaban atas pertanyaan itu mungkin berbeda-beda, namun bagi penulis sendiri yang ada justru kebingungan, dan terkadang merangsang munculnya perasaan takut yang luar biasa.

Sebagai pegawai, PNS adalah garda terdepan dalam usaha mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang menjadi cita-cita bangsa ini saat proklamasi dikumandangkan. Upaya untuk mewujudkan good governance, pelayanan prima dan percepatan pemberantasan korupsi mustahil dilaksanakan ketika profesionalisme pegawai belum sepenuhnya terbentuk. Dalam konteks ini, tuntutan pengetahuan yang mendalam akan pekerjaan yang digeluti, komitmen atas tanggungjawab yang diemban, serta perilaku yang menjadi teladan seolah menjadi beban berat yang harus dipikul. Sekilas kita paham, namun semangat menjadi padam ketika menyadari bahwa kita hanyalah staf, yang dalam sebuah kerangka organisasi berada pada level terendah. Kemauan untuk menggali potensi diri dan berkembang tidak dapat optimal ketika kesempatan yang kita miliki sangat kecil. Ingin bergerak cepat, namun kita tak lebih dari sebuah pion yang menunggu perintah. Setiap langkah kita tergantung pada apa yang diinginkan oleh pimpinan, beberapa teman cukup beruntung menjadi bagian penting dari permainan, namun sebagian kawan yang lain harus bersedia ditempatkan di tempat yang tidak sesuai, dan tak lebih dari sekedar pelengkap.

Kondisi tersebut diperparah ketika secara kelembagaan organisasi pemerintahan yang ada cenderung berantakan, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, managemen perkantoran yang handal menjadi kebutuhan yang mendesak. Hal tersebut berangkat dari kecenderungan bahwa kantor pemerintah pada saat ini tidak lebih dari sekedar ruang mengolah, menganalisis, dan melaporkan data/informasi, namun belum menjadi wadah atau sarana implementasi program yang bermanfaat bagi masyarakat. Organisasi pemerintahan menjadi semakin kurang bermakna ketika sebagian pegawai belum paham terhadap tugas dan fungsi lembaganya. Para abdi negara seringkali hanya bertindak sesuai perintah, atau berjalan mengikuti jalur dan mekanisme yang selama ini terbentuk. Program dan kegiatan disusun dan direncanakan hanya berdasarkan catatan terdahulu, tanpa secara kritis memikirkan perubahan dan langkah meju yang harus dilakukan. Jika hal tersebut terus terjadi, dikhawatirkan pegawai akan merubah diri mereka sendiri menjadi robot dalam bangunan pemerintahan.

Sementara secara eksternal, masih terdapat tumpang tindih dalam penyelenggaraan roda pemerintahan. Seringkali kita jumpai organisasi pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi yang sama, atau terkadang kita juga menemukan program atau kebijakan yang seharusnya saling terkait menjadi tidak optimal karena setiap proses di dalamnya terbagi menjadi tanggungjawab beberapa instansi. Dalam proses tersebut, tuntutan akan efisiensi dan efektifitas lembaga pemerintahan harus menyerah dan tersandera dalam berbagai kepentingan.

Banyaknya pandangan negatif terhadap profesionalitas pegawai serta rapuhnya instansi pemerintahan dalam menopang kehidupan masyakarat pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari sistem pengelolaan pemerintahan selama ini. Pada satu sisi, puluhan peraturan mengenai penyelenggaraan pemerintahan kita dalami dalam proses pembelajaran di diklat prajabatan, namun disisi lain, semua peraturan tersebut seolah menjadi tidak berarti ketika budaya kerja yang kita jumpai di lapangan belum sepenuhnya membuka jalan penegakan aturan. Kadang kita taat pada aturan, namun ketika ketaatan tersebut dinegosiasikan dengan mekanisme yang selama ini berjalan, yang terbentuk justru sikap dan perilaku permisif terhadap pelanggaran. Idealisme akan luntur, menyatu dalam potret buram birokrasi pemerintah yang semakin pekat.

Ironi semakin kentara bagi kami, ketika setiap pagi mengucap janji panca prasetya KORPRI. Apakah kami beriman dan bertaqwa kepada Tuhan ? Apakah kami setia pada pemerintah ? Apakah kami mampu menjunjung kehormatan bangsa ? apakah kami mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat diatas kepentingan pribadi ? apakah kami menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ? dan, apakah kami telah menegakkan kejujuran, keadilan, disiplin, serta meningkatkan profesionalisme ?? terlalu perih untuk difikirkan..


Semakin Dipahami, Semakin Optimis Berjuang

Kaliurang semakin dingin, tubuh semakin payah, dan pikiran semakin penat. Hari-hari terakhir prajab, adakah lagi yang dapat menjadikan momen ini berharga ???.

Jumat, 29 Juli 2011, mungkin ini titik balik dari semua bayangan buruk tentang PNS dan birokrasi pemerintahan, yang notabenenya adalah diri kami sendiri. Pola pikir PNS, itu materi yang diajarkan, pikiran berputar, menerka bahwa diskusi yang terbangun hanya akan sebatas PNS itu harus begini, harus begitu, seperti ini, dan seperti itu. Perasaan menunjuk bahwa kita kembali akan dijejali oleh mimpi-mimpi lain yang mustahil terwujud. Tapi yang terjadi berbeda 180ยบ dari yang kita bayangkan. Kami yang sedang merajut mimpi dihempaskan dengan keras, ditunjukkan pada cermin bergambar menyeramkan.

Dengan gambaran PNS dan birokrasi pemerintahan sebagaimana yang ada di masyarakat, atau yang ada dalam bayangan kami, layakkah upah yang diterima selama ini ? dengan disiplin yang masih rendah, pantaskah digaji lebih mahal dibanding buruh pabrik yang datang-pulang on-time dengan jam kerja lebih banyak ??

Dalam satu kelas kami sepakat bahwa kita bekerja untuk keluarga, tapi ternyata itu tidak cukup. Dalam sebuah refleksi, kami hanya mampu mengingat nama dan makam eyang buyut kami, tidak lebih jauh dari itu. Maka sejauh itulah kami akan diingat oleh keluarga kami nantinya. Tersentak, hanya akan sampai pada jenjang itukah memori keluarga akan diri kami ?? Bekerja pada hakikatnya lebih dari itu, melainkan adalah sebuah ibadah yang bersumber pada kecintaan terhadap nikmat Alloh SWT. Keluarga adalah bagian penting munculnya inspirasi, namun kita hendaknya tidak menempatkanya sebagai orientasi satu-satunya dan paling utama. Jangan lupakan bahwa kita juga bertanggungjawab pada masyarakat, keluarga-keluarga lain yang kehidupannya mungkin sangat tergantung pada sejauhmana hasil kinerja kita.

Dalam kelas yang tersisa hanya diam, sedikit yang bersuara kecuali yang berbisik menyesali yang sudah terjadi selama ini. Tapi itu bukan akhir, dan bukan sebuah kegagalan.

Layakkah kami mendapat semua hak-hak ini ? YA, karena kami sampai jenjang ini tidak dengan mudah, ada proses pembelajaran dan kompetisi yang harus kami ikuti dan kami menangkan. Terdapat perjuangan keras pioner-pioner muda menembus perlawanan ribuan pencari kerja. Dan YA, karena kami menerima gaji berdasarkan peraturan yang ada. Namun kemudian bukan berarti tidak perlu melakukan perubahan. Perolehan hak-hak seorang pegawai harus diimbangi dengan upaya pemenuhan kewajiban PNS secara optimal. Sekali lagi, meningkatan profesionalisme pegawai, reformasi birokrasi serta perubahan sistem dan budaya menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Upaya perwujudan profesionalisme pegawai dapat dibangun dengan perubahan pada aspek knowledge, skill dan attitude. Tidak perlu orang lain yang menilai, namun kita dapat memetakan sejauhmana kemampuan dan kompetensi kita pada ketiga aspek tersebut. Jangan lagi berfikir bahwa ketidaksesuaian bidang kerja dengan pendidikan adalah hambatan bagi optimalisasi kinerja. Ketika anda tidak bisa, belajarlah, dan jangan terus mengeluh karena saat ini bukan waktunya bagi kita untuk menyesal. Yakinlah bahwa puluhan atau ratusan teman kita dalam birokrasi pemerintahan membuka ruang seluas-luasnya untuk belajar, jauh lebih banyak dibanding segelintir oknum birokrat yang menutup kesempatan untuk maju. Bangun persepsi bahwa lingkungan kerja kita adalah anugerah bagi kita untuk berkembang. Optimisme tersebut selanjutnya perlu diwujudkan bersama-sama, dibangun kerjasama tim yang solid dalam sebuah organisasi. Mekanisme diskusi, monitoring dan evaluasi disusun bersama oleh para pembuat kebijakan dalam format yang sederhana namun kaya substansi.

Lalu bagaimana dengan sistem dan budaya yang ada? Bagaimana kita mampu mengalahkannya ??

Kalau orientasi kita hanya mengalahkan sistem yang ada, maka jadilah orang kaya atau orang gila, karena hanya terhadap dua kelompok itu penguasa tidak dapat bersifat seenaknya. Hal tersebut juga berlaku sebaliknya, karena ketiga kelompok itulah yang kuat saat ini. Tapi apakah kekuasaan dan sistem tersebut harus dikalahkan? Apakah kita, yang bahkan belum menjadi PNS mampu melakukannya ?? Sulit, bukan mustahil, tapi perlu waktu yang sangat lama. Lalu, apa yang dapat kita lakukan ??

Pelajaran berharga bagi kami : jadilah Togog, Semar atau Batara Guru. Diriwayatkan dari pembuka cerita pewayangan ciptaan Sunan Kalijaga, munculnya karakter-karakter dewa yang diturunkan ke bumi. Togog, dia hidup bersama dengan keburukan dan kejahatan, namun dia sekali-kali bukanlah bagian dari keburukan itu. Dia hidup, tinggal dan berinteraksi dengan keburukan, namun dia mempunyai komitmen yang terjaga kuat, menarik saudara-saudaranya untuk tidak semakin terjerumus dalam kejahatan dan membawanya menuju kebaikan. Semar, dia hidup bersama kebaikan, dan akan berusaha menjaga kebaikan yang sudah terbangun. Dan Batara Guru, dia adalah seadil-adilnya hakim yang mampu mengayomi semua orang. Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, kita tidak hidup sendiri, tapi berhadapan dengan banyak kepentingan dan tuntutan. Maka cerdaslah membaca situasi, jadilah Togog atau Semar di tempat dimana kamu berada. Ketika suatu waktu kamu mempunyai kekuasaan dan kekuatan, dalam skala dan level apapun, jadilah Batara Guru yang bijaksana. Terlihat munafik, namun hakikat sesungguhnya adalah rasa tanggungjawab kita akan pekerjaan, organisasi, dan keluarga.


Yang Berharga, Yang Berjasa

Ketika saat penutupan tiba, tiada kata yang lebih pantas kecuali ucapan terima kasih. Penghargaan yang luar biasa bagi Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Magelang atas jerih payahnya mengantarkan kami ke gerbang pengabdian. Saat perjuangan dilalui, semoga kepercayaan tersebut dapat kami balas dengan kemajuan Magelang gemilang. Untuk Pusdiklat Kemendagri Regional Yogyakarta, terima kasih atas pengetahuan yang telah dibagi. Pribadi-pribadi hebat dalam diri pejabat, panitia, atau widyaiswara adalah teladan nyata bagi kami untuk mengabdi pada negara dan masyarakat. Untuk Taman Eden, terima kasih bersedia menjadi ruang bagi kami untuk bersilaturahmi, membangun persaudaraan dan kebersamaan.

Untuk teman-teman, khususnya angkatan XXX..terima kasih, salut dan hormat saya bagi kalian semua. Saya hanyalah pribadi kecil yang mencoba merajut mimpi, beruntung dibimbing selama 22 hari oleh karakter-karakter hebat dan luar biasa. Ingat pada evaluasi antar peserta ?? sesungguhnya tidak ada pribadi yang lengkap diantara kita, melainkan kita diciptakan untuk saling melengkapi.

Nilai kedisiplinan, kemimpinan, kerjasama dan prakarsa tumbuh bersama dalam ruangan kecil di bawah ruang makan villa Taman Eden 1. Kedisiplinan terwujud ketika Ibu Suci, Ibu Tulus, Pak Yuli dan teman-teman lainnya hadir tepat waktu dan dapat menghadiri semua aktifitas. Kepemimpinan muncul ketika Pak Agus, Bu Juliani, Bu Trias dan kawan lain bersedia memangku jabatan sebagai pengurus kelas atau mau menjadi duta angkatan XXX. Kerjasama terbangun ketika Bu Ester, Pak Sapto, Pak Mateus dan sahabat lain membakar semangat rela berkorban dalam kelas. Sementara prakarsa tumbuh ketika Bu Sita, Pak Joko, Pak Pram dan saudara lain ikhlas berbagi inspirasi. Pada akhirnya tidak ada pemenang diantara kita, kecuali hanya kobaran hebat semangat bersama untuk berjuang dalam ladang pengabdiannya masing-masing.

We are XXX..penuh semangat, tak putus asa..kita kan maju bersama-sama..WE ARE XXX...

DIKLAT PRAJABATAN..SAYA TERINGAT, SAYA BERTEKAD, SAYA LAKSANAKAN..


(nurprismawan, 040811)