Rabu, 14 Januari 2009 mungkin akan menjadi titik balik dari dinamika politik yang mewarnai kehidupan demokrasi di Indonesia. Pada hari tersebut Yenni Wahid, Sekjen PKB versi GusDur bersanding dengan Pramono Anung, Sekjen PDIP. Keduanya bersama-sama membangun sebuah komitmen, simpatisan PKB versi GusDur diminta mengalihkan dukungan kepada PDI Perjuangan. Dalam dunia politik, koalisi antar parpol merupakan hal yang wajar terjadi. Namun pada kasus ini menjadi lebih menarik karena pihak PKB memberikan dukungan kepada PDIP karena tidak mempunyai legitimasi untuk mendukung calon mereka sendiri. Kendati skala dukungan masih terbatas dan kedua partai masih berusaha berkibar dengan bendera masing-masing, namun situasi ini dapat merubah peta kekuatan partai-partai dalam Pemilu 2009.
Pilihan yang diambil oleh GusDur hakikatnya merupakan sebuah keputusan tidak lazim, namun harus dilakukan. Perseteruan antara GusDur dengan sang keponakan Muhaimin Iskandar dalam managemen PKB berakhir dengan keputusan yang dikeluarkan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Depkumham hanya mengakui PKB kepemimpinan Muhaimin dengan Sekjen Lukman Edi, serta menyingkirkan tatanan kepengurusan yang dibuat GusDur yang menempatkan Ali Maskur Musa dan Yenni Wahid sebagan pimpinan parpol. Kendati sudah berjuang melalui serangkaian proses hukum, dan menyerang Depkumham (atau dalam hal ini Andi Matalata langsung), toh PKB versi Muhaimin yang melenggang tenang menghadapi Pemilu 2009. Dengan posisi yang kurang diuntungkan, menarik untuk mencermati manuver yang dilakukan GusDur dengan memberikan dukungan dan mengalihkan suara pemilih setianya ke partai lain.
Sebagai seorang kyai, pemimpin spiritual, GusDur mempunyai jutaaan pendukung fanatik, terutama dari kalangan Nahdatul Ulama (NU). Sebagai seorang kyai, didukung dengan intelektualitas di atas rata-rata serta garis keturunan pendiri NU, jutaan orang setia mengikuti setiap ucapan dan tindakannya. Pemimpin spiritual, baik di dalam kelompok NU maupun kelompok keagamaan yang lain dianggap membawa sebuah kebenaran yang diajarkan Tuhan YME. Setiap ucapan dan tindakan selalu dibingkai dengan nilai kebenaran yang mutlak di dalam agama. Kondisi tersebut pada akhirnya membawa masyarakat untuk menaruh kepercayaan yang cukup besar kepadanya. Semakin terkenal seorang kyai, semakin besar pengaruh yang dimilikinya. Hal tersebut merupakan satu celah strategis bagi parpol peserta pemilu untuk meraih suara pemilih. Salah satu caranya adalah menarik kyai yang bersangkutan untuk bergabung dengan partai politiknya. Apa yang dimiliki oleh seorang GusDur, sebagai keturunan pendiri NU merupakan nilai lain yang dibawanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat tradisional di Jawa masih melihat garis keturunan sebagai faktor penting untuk melihat kekuatan kepemimpinan seseorang. Munculnya teori sifat (thrait theory) sebagai salah satu pendekatan teori kepemimpinan dapat memperjelas pentingnya faktor keturunan seorang pemimpin.
Dalam kasus tersebut, GusDur tidak sendiri. Di Jogja, anggapan bahwa Sri Sultan sebagai pemimpin yang utama masih kental dalam kehidupan masyarakatnya. Alasannya sederhana, bahwa beliau adalah anak raja, seseorang dengan riwayat hidup yang jelas sebagai pemimpin dibanding individu yang lain. Nilai-nilai feodalisme yang masih tumbuh subur di kehidupan masyarakat, hubungan kawulo-gusti yang seolah tidak tergantikan, sikap pasrah dan setia kepada ngarso dalem, pada akhirnya mengantarkan masyarakat untuk tunduk kepada perkataan sang raja. Dalam hingar bingar pemilu, hal tersebut juga dilihat sebagai potensi yang harus dioptimalkan, baik oleh parpol maupun (mungkin) oleh Sri Sultan sendiri. Di berbagai sudut kota dijumpai cukup banyak poster caleg dengan indentitas Sri Sultan tercantum di dalamnya. Dalam kasus di Jogja, fanatisme terhadap nilai budaya juga coba diraih melalui pemanfaatan simbol-simbol budaya. Tidak jarang, blangkon dan surjan sebagai pakaian tradisional Jawa menjadi pilihan kostum yang digunakan untuk berpose di dalam poster promosi.
Fanatisme sebagaimana disebutkan diatas pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan munculnya para artis dalam kancah politik atau banyaknya “pengikut” Soeharto dalam pemilu 2009. Seorang artis, apa yang mereka jual lebih banyak profil pribadi sebagai individu yang dekat dengan memori masyarakat, bukan visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari situasi tersebut, diharapkan masyarakat dapat bersimpati dan pada akhirnya memberikan suara mereka kepada sang caleg. Semakin terkenal seorang artis, dengan background peran protagonis yang lekat dalam ingatan masyarakat, semakin besar kekuatannya untuk menjadi vote getter. Dalam kasus munculnya partai-partai yang berafiliasi dengan sosok Soeharto pun pada dasarnya juga melihat romantisme masa lalu yang muncul seiring dengan keterpurukan ekonomi saat ini. Sosok Soeharto diyakini dapat menjadi magnet kuat bagi para pemilih dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik selayaknya pada masa orde baru.
Penulis yakin, seorang kyai, raja, atau artis mempunyai komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Menjadi legislatif atau kepala daerah merupakan media yang paling besar peluangnya untuk merubah tatanan yang telah terbangun selama ini, dan memasukkan gagasan-gagasan pembaharuan demi kemajuan bangsa. Namun sayangnya permainan politik yang ditunjukkan terkesan kurang cerdas, yang pada akhirnya akan menjadi bumerang yang menghantam diri mereka sendiri. Sikap saling serang secara frontal, atau latah dengan situasi yang berkembang di masyarakat menunjukkan sikap yang tidak tegas dari seorang pemimpin. Muncul kesan bahwa mereka bertindak bukan atas inisiatif mereka sendiri, namun didorong oleh berbagai macam kepentingan dari banyak pihak.
Menjadi simpatisan figur tertentu bukan merupakan sebuah dosa yang harus dihakimi, namun penting untuk mendapatkan pencerahan. Pemilihan presiden, kepala daerah maupun anggota legislatif berarti mempercayakan kehidupan kita kepada individu-individu tersebut. Mereka adalah aktor-aktor yang mempunyai legitimasi untuk merumuskan kebijakan-kebijakan strategis bagi pemenuhan kesejahteraan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain. Setiap kebijakan tersebut memberikan kontribusi terhadap derajat masyarakat. Semakin baik kebijakan yang disusun dan diimplementasikan, semakin tinggi derajat kehidupan masyarakat.
Apa yang ditulis diatas pada akhirnya bukan merupakan sebuah serangan terhadap nilai-nilai kepercayaan masyarakat, namun sekedar peringatan terhadap tanggungjawab kita sebagai pemilih.
Berfikir bijak untuk 2009.
Heru, 150109
Pilihan yang diambil oleh GusDur hakikatnya merupakan sebuah keputusan tidak lazim, namun harus dilakukan. Perseteruan antara GusDur dengan sang keponakan Muhaimin Iskandar dalam managemen PKB berakhir dengan keputusan yang dikeluarkan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Depkumham hanya mengakui PKB kepemimpinan Muhaimin dengan Sekjen Lukman Edi, serta menyingkirkan tatanan kepengurusan yang dibuat GusDur yang menempatkan Ali Maskur Musa dan Yenni Wahid sebagan pimpinan parpol. Kendati sudah berjuang melalui serangkaian proses hukum, dan menyerang Depkumham (atau dalam hal ini Andi Matalata langsung), toh PKB versi Muhaimin yang melenggang tenang menghadapi Pemilu 2009. Dengan posisi yang kurang diuntungkan, menarik untuk mencermati manuver yang dilakukan GusDur dengan memberikan dukungan dan mengalihkan suara pemilih setianya ke partai lain.
Sebagai seorang kyai, pemimpin spiritual, GusDur mempunyai jutaaan pendukung fanatik, terutama dari kalangan Nahdatul Ulama (NU). Sebagai seorang kyai, didukung dengan intelektualitas di atas rata-rata serta garis keturunan pendiri NU, jutaan orang setia mengikuti setiap ucapan dan tindakannya. Pemimpin spiritual, baik di dalam kelompok NU maupun kelompok keagamaan yang lain dianggap membawa sebuah kebenaran yang diajarkan Tuhan YME. Setiap ucapan dan tindakan selalu dibingkai dengan nilai kebenaran yang mutlak di dalam agama. Kondisi tersebut pada akhirnya membawa masyarakat untuk menaruh kepercayaan yang cukup besar kepadanya. Semakin terkenal seorang kyai, semakin besar pengaruh yang dimilikinya. Hal tersebut merupakan satu celah strategis bagi parpol peserta pemilu untuk meraih suara pemilih. Salah satu caranya adalah menarik kyai yang bersangkutan untuk bergabung dengan partai politiknya. Apa yang dimiliki oleh seorang GusDur, sebagai keturunan pendiri NU merupakan nilai lain yang dibawanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat tradisional di Jawa masih melihat garis keturunan sebagai faktor penting untuk melihat kekuatan kepemimpinan seseorang. Munculnya teori sifat (thrait theory) sebagai salah satu pendekatan teori kepemimpinan dapat memperjelas pentingnya faktor keturunan seorang pemimpin.
Dalam kasus tersebut, GusDur tidak sendiri. Di Jogja, anggapan bahwa Sri Sultan sebagai pemimpin yang utama masih kental dalam kehidupan masyarakatnya. Alasannya sederhana, bahwa beliau adalah anak raja, seseorang dengan riwayat hidup yang jelas sebagai pemimpin dibanding individu yang lain. Nilai-nilai feodalisme yang masih tumbuh subur di kehidupan masyarakat, hubungan kawulo-gusti yang seolah tidak tergantikan, sikap pasrah dan setia kepada ngarso dalem, pada akhirnya mengantarkan masyarakat untuk tunduk kepada perkataan sang raja. Dalam hingar bingar pemilu, hal tersebut juga dilihat sebagai potensi yang harus dioptimalkan, baik oleh parpol maupun (mungkin) oleh Sri Sultan sendiri. Di berbagai sudut kota dijumpai cukup banyak poster caleg dengan indentitas Sri Sultan tercantum di dalamnya. Dalam kasus di Jogja, fanatisme terhadap nilai budaya juga coba diraih melalui pemanfaatan simbol-simbol budaya. Tidak jarang, blangkon dan surjan sebagai pakaian tradisional Jawa menjadi pilihan kostum yang digunakan untuk berpose di dalam poster promosi.
Fanatisme sebagaimana disebutkan diatas pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan munculnya para artis dalam kancah politik atau banyaknya “pengikut” Soeharto dalam pemilu 2009. Seorang artis, apa yang mereka jual lebih banyak profil pribadi sebagai individu yang dekat dengan memori masyarakat, bukan visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari situasi tersebut, diharapkan masyarakat dapat bersimpati dan pada akhirnya memberikan suara mereka kepada sang caleg. Semakin terkenal seorang artis, dengan background peran protagonis yang lekat dalam ingatan masyarakat, semakin besar kekuatannya untuk menjadi vote getter. Dalam kasus munculnya partai-partai yang berafiliasi dengan sosok Soeharto pun pada dasarnya juga melihat romantisme masa lalu yang muncul seiring dengan keterpurukan ekonomi saat ini. Sosok Soeharto diyakini dapat menjadi magnet kuat bagi para pemilih dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik selayaknya pada masa orde baru.
Penulis yakin, seorang kyai, raja, atau artis mempunyai komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Menjadi legislatif atau kepala daerah merupakan media yang paling besar peluangnya untuk merubah tatanan yang telah terbangun selama ini, dan memasukkan gagasan-gagasan pembaharuan demi kemajuan bangsa. Namun sayangnya permainan politik yang ditunjukkan terkesan kurang cerdas, yang pada akhirnya akan menjadi bumerang yang menghantam diri mereka sendiri. Sikap saling serang secara frontal, atau latah dengan situasi yang berkembang di masyarakat menunjukkan sikap yang tidak tegas dari seorang pemimpin. Muncul kesan bahwa mereka bertindak bukan atas inisiatif mereka sendiri, namun didorong oleh berbagai macam kepentingan dari banyak pihak.
Menjadi simpatisan figur tertentu bukan merupakan sebuah dosa yang harus dihakimi, namun penting untuk mendapatkan pencerahan. Pemilihan presiden, kepala daerah maupun anggota legislatif berarti mempercayakan kehidupan kita kepada individu-individu tersebut. Mereka adalah aktor-aktor yang mempunyai legitimasi untuk merumuskan kebijakan-kebijakan strategis bagi pemenuhan kesejahteraan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain. Setiap kebijakan tersebut memberikan kontribusi terhadap derajat masyarakat. Semakin baik kebijakan yang disusun dan diimplementasikan, semakin tinggi derajat kehidupan masyarakat.
Apa yang ditulis diatas pada akhirnya bukan merupakan sebuah serangan terhadap nilai-nilai kepercayaan masyarakat, namun sekedar peringatan terhadap tanggungjawab kita sebagai pemilih.
Berfikir bijak untuk 2009.
Heru, 150109