berfikir positif sampai nafas terakhir (250908)

Wednesday, August 13, 2008

Memahami Masyarakat : Nilai dan Tindakan

Jumat, 1 Agustus 2008 saya mendapatkan berita bahwa mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) dari sebuah PTS yang berada di kampung sebelah diusir oleh warga. Hal tersebut dilatarbelakangi sikap salah satu mahasiswa yang sering mengucapkan kata-kata kasar kepada warga. Setelah beberapa kali teguran tidak diabaikan, masyarakat setempat memilih mengambil tindakan tegas untuk mengusir mahasiswa KKN dengan alasan bahwa tindakan yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa tersebut mengganggu nilai, norma, dan etika yang berlaku di masyarakat.
Masyarakat adalah sekumpulan orang yang mempunyai serangkaian tujuan yang sama, seperi kesejahteraan, masyarakat yang berbudaya, dan kemudian membingkainya dalam berbagai macam aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Aturan-aturan tersebut diberlakukan sebagai upaya menjaga arah dari kehidupan masyarakat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Aturan yang tertulis dilembagakan melalui serangkaian keputusan yang mempunyai legitimasi dihadapan hukum negara, sementara berbagai macam aturan dan kesepakatan yang tidak tertulis direpresentasikan melalui tindakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kewenangan untuk mengelola hukum tidak tertulis ini sepenuhnya berada di tangan masyarakat, yang dilakukan melalui lembaga-lembaga masyarakat yang diberi kewenangan atas nama masyarakat untuk menegakkan peraturan. Meski terdapat sebuah kepengurusan, berbagai macam keputusan penting dibahas melalui mekanisme rembug warga yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Di dalam definisi masyarakat terdapat makna loyalitas dan hubungan kekerabatan yang sangat erat. Di dalam konflik antar komunitas kita sering mendapatkan sebuah fakta bahwa munculnya rasa solidaritas sebagai pemicu. Hal tersebut sangat beralasan mengingat masalah yang dihadapi oleh salah satu anggota masyarakat memungkinkan terganggunya usaha pencapaian tujuan masyarakat secara keseluruhan. Kondisi-kondisi demikian pada akhirnya memberikan tuntutan kepada setiap individu yang mempunyai kepentingan dengan masyarkat untuk bisa memahami dan memaknai nilai-nilai di masyarakat. Harapannya adalah bahwa dalam usaha mencapai tujuan pribadinya, individu dari luar tidak mengorbankan atau menganggu upaya mencapai tujuan masyarakat.
Dalam kasus terusirnya mahasiswa KKN sebagaimana yang disebut diatas, terdapat kegagalan dari individu mahasiswa KKN dalam menyesuaikan diri dengan budaya dan nilai yang dijunjung di dalam masyarakat. Tidak hanya bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku, namun juga para mahasiswa sepertinya kurang memahami bagaimana posisi mereka dari kacamata masyarakat.
Kehidupan di desa, terutama di Jawa merupakan sebuah kondisi yang kompleks. Dengan jarak rumah yang tidak terlalu dekat, emosi antar warga jauh lebih kuat dibanding dengan orang kota yang hidup berdempetan. Tidak hanya berupa sifat kegotongroyongan masyarakat, namun juga dalam hal pergaulan dan tingkah laku sehari-hari. Pergunjingan, gosip, obrolan merupakan salah satu kebiasaan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat desa. Dinamisme masyarakat yang tidak sepadat orang kota memberikan waktu lebih banyak untuk sekedar bercakap-cakap. Dengan banyaknya waktu berdiskusi, ruang obrolan pun menjadi cukup lebar, dari sekedar berkeluh kesah mengenai beban kehidupan sampai beradu pendapat menilai perilaku orang lain. Bagaimana orang berbicara, bagaimana orang berpakaian, gaya hidup, pergaulan merupakan cerita-cerita yang dengan cepat berkembang di masyarakat. Dengan latar belakang masyarakat yang bervariasi, pandangan yang muncul pun beranekaragam, baik positif maupun negatif. Ketika mahasiswa berperilaku menyimpang, oleh sebagian masyarakat mungkin diterima. Umpatan-umpatan kasar misalnya, di kalangan pemuda, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan bukan merupakan sesuatu yang aneh. Bukan hanya mahasiswa yang bisa mengumpat, namun warga juga bisa melakukan hal yang sama. Namun yang patut dicatat adalah meski bukan hal yang asing, bahkan mungkin menjadi kebiasaan untuk kelompok tertentu, hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap nilai masyarakat secara keseluruhan. Dibandingkan mereka yang tidak mempermasalahkan, jumlah mereka yang merasa terganggu jelas lebih banyak. Meski tidak merasakan kerugian secara langsung, apa yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut dinilai akan memberikan dampak yang buruk bagi anak-anak mengingat bukan hal yang aneh ketika anak-anak dengan mudah bergaul dengan orang-orang baru yang mereka kenal. Dengan asumsi bahwa mahasiswa yang bersangkutan masih dalam proses perkenalan dan mungkin belum begitu mengetahui nilai-nilai dalam masyarakat, teguran merupakan langkah pertama yang diambil. Harapannya, mahasiswa tersebut dapat belajar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun ketika teguran yang berkali-kali disampaikan tidak mendapatkan respon positif, tindakan tegas berupa pengusiran dipilih untuk mengamankan ketertiban masyarakat yang sudah terbangun selama ini.
Selain masalah nilai di dalam masyarakat, mahasiswa hendaknya juga melihat bagaimana posisi mereka di mata masyarakat. Di dalam masyarakat desa kebanyakan, mahasiswa identik dengan individu yang terpelajar, baik secara akademis maupun pergaulan. Mereka adalah individu-individu handal yang diharapkan mampu membawa perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan latar belakang ekonomi, dimana kebanyakan mahasiswa berasal dari keluarga kaya, berbeda dengan masyarakat desa yang secara ekonomi sederhana, hal tersebut tidak menjadi persoalan serius mengingat bagi masyarakat, tingkah laku merupakan indikator utama bagaimana mereka menilai seseorang. Dengan kecerdasan yang dimiliki, diharapkan mahasiswa dapat membantu masyarakat dalam membangun desanya, baik secara fisik maupun pengetahuan. Tidak harus berasal dari mahasiswa secara langsung, namun mereka dapat berperan sebagai fasilitator dan membantu masyarakat dalam mengakses program-program pembangunan. Berbagai jalan dapat dilakukan baik dengan memberikan akses langsung maupun membantu masyarakat menyusun proposal atau perencanaan pembangunan. Harapan yang demikian tinggi merupakan pintu masuk bagi mahasiswa untuk memanfaatkan secara optimal sumberdaya masyarakat. Keuntungan diharapkan dapat diperoleh oleh baik masyarakat maupun mahasiswa. Selain keuntungan bagi masyarakat sebagaimana disebutkan diatas, bagi mahasiswa, sikap permisif masyarakat akan membantu mereka dalam mengembangkan program kerja dalam memenuhi tuntutan nilai yang dibebankan oleh universitas. Pelanggaran terhadap nilai yang berlaku di dalam masyarakat merupakan tindakan yang menciderai kepercayaan yang dibangun bersama. Ketika kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada mahasiswa tidak dapat dipergunakan dengan baik, egoisme komunitas akan muncul sebagai bentuk kekecewaan. Mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai individu yang dibutuhkan selama mereka tidak bisa menjaga keberlangsungan ketertiban masyarakat. Tanggungjawab pembangunan masyarakat secara kasar kembali diambil alih oleh masyarakat yang bersangkutan daripada menanggung resiko jangka panjang yang jauh lebih berbahaya. Satu hal yang patut digarisbawahi adalah bahwa tindakan yang dilakukan oleh masyarakat semata-mata dilatarbelakangi pada keyakinan yang dimiliki, bukan merupakan sentimen antar budaya dan tidak menghormati adat-istiadat yang berbeda-beda. Pada hakikatnya mereka sadar bahwa mahasiswa berasal dari berbagai macam daerah dengan karakteristik yang berbeda-beda yang teraktualisasi dalam pemikiran dan tingkah laku yang berbeda. Namun dalam kacamata mereka, ketika mahasiswa melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan di daerahnya, mahasiswa lah yang dituntut untuk memahami dan mentaati segala macam peraturan dan nilai yang berlaku di masyarakat.

(Heru, 020808)